Header Ads

ad728
  • BERITA TERKINI

    Pelatihan Jurnalistik Batch 7 Ajang Kaderisasi

     


    Jakarta (22/8). DPP LDII menggelar Pelatihan Jurnalistik LINES (LDII News Network) Batch 7 di Kantor LDII, Jakarta. Acara yang diikuti 56 peserta itu merupakan upaya pengkaderan sekaligus memperkuat kemampuan organisasi di era new media.

    Acara yang berformat kursus tersebut, berlangsung tiap akhir pekan selama dua bulan. “Media organisasi dibutuhkan sebagai jembatan komunikasi antara organisasi dengan pemerintah dan masyarakat. Media juga alat untuk klarifikasi isu, membendung hoax, bahkan dalam situasi tertentu kadang menjadi tameng untuk suatu institusi,” ujar Sekretaris Umum DPP LDII Tri Gunawan Hadi pada Jumat (22/8/2026).

    Tri Gunawan juga mengingatkan bahwa media bisa sekaligus menjadi sarana edukasi dan sosialisasi. “Menjadi saluran info resmi menyampaikan berita baik atau kontribusi organisasi kepada stakeholder,” kata dia.

    Karena itulah adanya pelatihan ini mengingatkan bahwa bagi organisasi, media menjadi sarana efektif mengembangkan kiprah organisasi, sosialisasi kebijakan, hingga penyeimbang dalam menyikapi disinformasi. “Terutama bagi LDII yang kontribusinya perlu diangkat agar masyarakat tidak terpengaruh stigma negatif, itulah sebabnya citra LDII perlu dibangun melalui media,” katanya.

    Kekuatan media berdampak pada perubahan citra organisasi itu sendiri seiring perkembangan media digital. “Perbandingannya dulu dan sekarang, soal LDII kini positif, sudah semakin baik,” ujarnya.

    Senada dengan Tri, Ketua DPP LDII Bidang Komunikasi, Informasi dan Media (KIM) Rulli Kuswahyudi mengatakan, pelatihan ini juga mengajarkan cara seseorang atau suatu lembaga menyikapi isu. “Ibarat naik kapal, kita melihat ada daratan kecil dari kejauhan, kita anggap itu kecil dan bisa dilalui, tapi yang tak diketahui kalau daratan itu hanya sebagian kecil dibalik sebuah gunung yang besar,” jelasnya.

    Era post truth, kata Rulli, informasi yang disebar merupakan framing. Maka kebenaran bukan berdasarkan fakta namun Post truth sekarang melibatkan media digital dengan adanya influencer media sosial. “Framing telah dihadapi LDII sejak berdiri, yakni stigma negatif masyarakat. Sebelum akhirnya memanfaatkan media sebagai branding,” ujarnya.

    Rulli mengingatkan, tugas Kelompok Kerja (Pokja) LINES yang dinaungi Departemen KIM DPP LDII adalah membuat konten yang mengedukasi masyarakat, bukan sekedar konten iseng atau mengikuti kepopuleran.

    Selain itu, Ia juga mengingatkan agar peserta mengajak orang sekitarnya untuk terus bijak bersosial media. “Era seperti ini kita harus bisa memilah dan memilih karena batas antara fakta (Fact) dan Fake itu tipis. Meningkatkan citra organisasi itu yang kita lakukan,” ujarnya.

    Bagi organisasi, media sosial adalah sarana profiling untuk publik. “Karena itu jika tidak membuat konten yang baik tentang LDII, isu tidak teralihkan. Jangan biarkan algoritma menghakimi,” kata Rulli.

    Ia menegaskan kepada para peserta, pelatihan itu digelar karena LDII membutuhkan generasi muda yang mau beramal saleh, memberi sumbangsih mengelola branding organisasi. “Jangan hanya jadi penonton atau objek algoritma, tapi menjadi pelaku,” kata dia. Sebagai humas organisasi nantinya, ia juga berharap peserta menerapkan pribadi yang baik bagi masyarakat sekitar.

    Tidak ada komentar